Senin, 02 Mei 2016

Kemiskinan dan Kesenjangan

·     Konsep dan Pengertian Kemiskinan

1.    Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.

2.    Konsep Kemiskinan
Kemiskinan dapat dilihat dari dua sisi yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif adalah konsep kemiskinan yang mengacu pada kepemilikan materi dikaitkan dengan standar kelayakan hidup seseorang atau kekeluarga. Kedua istilah itu menunjuk pada perbedaan sosial (social distinction) yang ada dalam masyarakat berangkat dari distribusi pendapatan.
                        -          Kemiskinan absolut atau mutlak
berkaitan dengan standar hidup minimum suatu masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk garis kemiskinan (poverty line) yang sifatnya tetap tanpa dipengaruhi oleh keadaan ekonomi suatu masyarakat. Kemiskinan abosolut ini bisa diartikan dari melihat seberapa jauh perbedaan antara tingkat pendapatan seseorang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
                   -               Kemiskinan relatif
Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang tidak berhubung dengan garis kemiskinan, kemiskinan jenis ini bersumber dari prefektif masing-masing orang, yaitu karena orang tersebut merasa miskin. Pada dasarnya menunjuk pada perbedaan relatif tingkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat. Kemiskinan relatif memahami kemiskinan dari dimensi ketimpangan antar kelompok penduduk.

·     Garis Kemiskinan

Garis Kemiskinan (poverty line) adalah kemampuan seseorang atau keluarga memenuhi kebutuhan hidup standar pada suatu waktu dan lokasi tertentu untuk melangsungkan hidupnya. Pembentukan garis kemiskinan tergantung pada defenisi mengenai standar hidup minimum.
Dalam praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara berkembang. Garis kemiskinan berguna sebagai perangkat ekonomi yang dapat digunakan untuk mengukur rakyat miskin dan mempertimbangkan pembaharuan sosio-ekonomi, misalnya seperti program peningkatan kesejahteraan dan asuransi pengangguran untuk menanggulangi kemiskinan.

·     Penyebab dan Dampak Kemiskinan

Suatu kondisi pasti mempunyai penyebab yang menyebabkan kondisi atau situasi itu terbentuk atau terjadi. Sama seperti kemiskinan, kemiskinan juga memiliki penyebab yang menyebabkan kemiskinan itu sendiri terjadi.
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
  • penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku,     pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
  • penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
  • penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan       sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
  • penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk         perang, pemerintah, dan ekonomi.
  • penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Kemiskinan secara umum disebabkan oleh dua faktor,yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal
·      Sikap yang menerima apa adanya, 
·      Tidak bersungguh-sungguh dalam berusaha, dan
·      Kondisi fisik yangkurang sempurna.

 Faktor Ekstenal
·      Keterkucilan karena akses yang terbatas,
·      Kurangnya lapangan kerja,
·      Ketidak adaan kesempatan,
·      Sumber daya alam yang terbatas,
·       kebijakan yang tidak berpihak, dsb.


Penyebab-penyebab kemiskinan pada umumnya adalah sebagai berikut:
1.    Laju pertumbuhan penduduk.
2.    Angkatan kerja, penduduk yang bekerja dan pengangguran.
3.    Tingkat pendidikan yang rendah.
4.    Kurangnya perhatian dari pemerintah
5.    Distribusi yang tidak merata

Adapun dampak yang disebabkan akibat kemiskinan diantaranya adalah:
1.      Pengangguran,
2.      Kriminalitas,
3.      Pendidikanm,
4.      Kesehatan,
5.      Konflik sosial bernuansa SARA, dan
6.      Buruknya generasi penerus.

·     Pertumbuhan, Kesenjangan dan Kemiskinan

Pertumbuhan ekonomi suatu negara pasti berhubungan dengan kesenjangan yang terjadi di suatu negara. Data 1970 – 1980 menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan PDB/pendapatan perkapita, semakin besar perbedaan sikaya dengan simiskin.
Penelitian di Asia Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan 198an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal 1990an ketimpangan meningkat kembali di LDC’s  dan DC’s seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan Swedia.
Hubungan antara tingkat kesenjangan pendapatan dengan pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan dengan Kuznet Hypothesis. Hipotesis ini berawal dari pertumbuhan ekonomi (berasal dari tingkat pendapatan yang rendah berasosiasi dalam suatu masyarakat agraris pada tingkat awal) yang pada mulanya menaik pada tingkat kesenjangan pendapatan rendah hingga pada suatu tingkat pertumbuhan tertentu selanjutnya kembali menurun. Indikasi yang digambarkan oleh Kuznet didasarkan pada riset dengan menggunakan data time series terhadap indikator kesenjangan Negara Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat.
Pemikiran tentang mekanisme yang terjadi pada phenomena “Kuznet” bermula dari transfer yang berasal dari sektor tenaga kerja dengan produktivitas rendah (dan tingkat kesenjangan pendapatannya rendah), ke sektor yang mempunyai produktivitas tinggi (dan tingkat kesenjangan menengah). Dengan adanya kesenjangan antar sektor maka secara subtansial dapat menaikan kesenjangan diantara tenaga kerja yang bekerja pada masing-masing sektor (Ferreira, 1999, 4).
Versi dinamis dari Kuznet Hypothesis, menyebutkan kan bahwa kecepatan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun (dasawarsa) memberikan indikasi naiknya tingkat kesenjangan pendapatan dengan memperhatikan initial level of income (Deininger & Squire, 1996). Periode pertumbuhan ekonomi yang hampir merata sering berasosiasi dengan kenaikan kesenjangan pendapatan yang menurun.
Sedangkan pengertian kemiskinan itu sendiri adalah keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.


·     Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan

1.      Indikator Kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance.
Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan koefisien gini.
Selain alat ukur diatas, cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan, terutama oleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan menjadi tiga group :
v  40% penduduk dengan pendapatan rendah,
v  40% penduduk dengan pendapatan menengah,dan
v   20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah penduduk.
Ketidakmerataan   pendapatan   diukur   berdasarkan   pendapatan   yang dinikmati oleh 40% penduduk dengan pendapatan rendah. Menurut kriteria Bank Dunia, tingkat   ketidakmerataan   dalam   distribusi   pendapatan   dinyatakan   tinggi,   apabila   40% penduduk dari kelompok berpendapatan rendah menerima lebih kecil dari 12% dari jumlah pendapatan.  Tingkat ketidakmerataan sedang, apabila  kelompok  tersebut  menerima 12% sampai 17% dari jumlah pendapatan. Sedangkan ketidakmerataan rendah, apabila  kelompok tersebut menerima lebih besar  17 % dari jumlah pendapatan.
2.      Indikator Kemiskinan
Indikator utama kemiskinan menurut BAPPENAS dapat dilihat dari; (1) kurangnya pangan, sandang dan perumahan yang tidak layak; (2) terbatasnya kepemilikan tanah dan alat-alat produktif; (3) kuranya kemampuan membaca dan menulis; (4) kurangnya jaminan dan kesejahteraan hidup; (5) kerentanan dan keterpurukan dalam bidang sosial dan ekonomi; (6) ketakberdayaan atau daya tawar yang rendah; (7) akses terhadap ilmu pengetahuan yang terbatas.
Sedangkan menurut Bank Dunia indikator kemiskinan yaitu:
a)      Kepemilikan tanah dan modal yang terbatas,
b)      Terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan,
c)      Perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat,
d)     Perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi,
e)      Rendahnya produktivitas,
f)       Budaya hidup yang jelek,
g)      Tata pemerintahan yang buruk, dan
h)      Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan.
Dari sisi makanan, BPS menggunakan indikator yang direkomendasikan  oleh Widyakara Pangan dan Gizi tahun 1998 yaitu kebutuhan gizi 2.100 kalori per orang per hari, sedangkan dari sisi kebutuhan non-makanan tidak hanya terbatas pada sandang dan papan melainkan termasuk pendidikan dan kesehatan. Model ini  pada intinya membandingkan tingkat konsumsi penduduk dengan suatu garis kemiskinan (GK), yaitu jumlah rupiah untuk konsumsi per orang per bulan. Sedangkan data yang digunakan adalah data makro hasil Survei Sosial dan  Ekonomi Nasional (Susenas).

·     Kemiskinan di Indonesia

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah/negara indonesia adalah kemiskinan, dewasa ini pemerintah belum mampu menghadapi atau menyelesaikan permasalahan tersebut, padahal setiap mereka yang memimpin Negara Indonesia selalu membawa kemiskinan sebagai misi utama mereka disamping misi-misi yang lain.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka kemiskinan di Indonesia pada 2015, sebanyak 28,5 juta jiwa. Meningkat dibanding tahun sebelumnya yang 27,7 juta jiwa. Sementara ukuran garis kemiskinan secara nasional di perkotaan adalah pendapatan Rp356 ribu per kapita perbulan. Sedang perdesaan, pendapatan Rp333 ribu per kapita per bulan.
Menurut Bank Dunia, selama ini Indonesia telah melakukan tiga upaya pengentasan kemiskinan. Yaitu melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan meningkatkan mata pencaharian.
Pada masa kepemimpinan SBY pemerintah Indonesia meluncurkan program penanggulangan kemiskinan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), KUR (Kredit Usaha Rakyat), pengembangan UMKM, PNPM Mandiri, dan masih banyak program-program lainnya, akan tetapi belum mampu mementaskan masyarakat indonesia dari jurang kemiskinan yang semakin hari semakin menyiksa dan menganiaya. 
Pada April 2016 lalu Presiden Joko Widodo dan rombongan, meluncurkan Program Sinergi Aksi Untuk Ekonomi Rakyat, program ini dibuat dengan tujuan akhirnya untuk pengentasan kemiskinan. Dalam hal ini Presiden Joko Widodo menunjuk Brebes sebagai daerah percobaan. Lalu bagaimana hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Salah satu prasyarat keberhasilan pengentasan kemiskinan adalah dengan cara mengidentifikasi kelompok sasaran dan wilayah sasaran dengan tepat. Program pengentasan dan pemulihan nasib orang miskin tergantung dari langkah awal yaitu ketetapan mengidentifikasi siapa yang dikatakan miskin dan di mana dia berada. Aspek di mana “si miskin” dapat ditelusuri melalui si miskin itu sendiri serta melalui pendekatan-pendekatan profil wilayah atau karakter geografis.
Dalam upaya penanggulangan kemiskinan ada dua strategi utama yang harus ditempuh oleh pemerintah. Pertama, melindungi keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Kedua, memberdayakan mereka agar mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha dan mencegah terjadinya kemiskinan baru.

·     Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan

Pada umumnya di negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:
  1.  Laju   Pertumbuhan   Penduduk.
  2. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
  3. Distribusi Pendapatan dan Pemerataan Pembangunan.
  4. Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya.
  5.  Tingkat   pendidikan   yang   rendah.
  6. Kurangnya perhatian dari pemerintah.

·     Kebijakan Anti Kemiskinan

Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO, UNDP, dan lain sebagainya.
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front :
1.    Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi kelompok miskin,
2.    Pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi,
3.    Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mampu

Ada 3 (tiga) pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni:
1.      Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pro kemiskinan
2.      Pemerintahan yang baik (good governance)
3.      Pembangunan social

Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi pemerintah sesuai sasaran atau tujuannya.  Sasaran atau tujuan tersebut dibagi menurut waktu, yakni jangka pendek, menengah dan panjang.
Intervensi lainnya adalah manajemen lingkungan dan SDA.  Hancurnya lingkungan dan “habisnya” SDA dengan sendirinya menjadi factor pengerem proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, yang berarti juga sumber peningkatan kemiskinan.
Intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan perantaranya untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan dapat dibagi menurut waktu, yaitu :
                                        1. 
Investasi jangka pendek, berupa:
§  Pembangunan sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
§   Manajemen lingkungan dan SDA
§  Pembangunan transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
§  Peningkatan keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan
§   Peningkatan proteksi sosial (termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)

2. Investasi jangka panjang dan menengah, berupa:
§  Pembangunan/penguatan sektor usaha
§   Kerjsama regional
§   Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi
§   Desentralisasi
§  Pendidikan dan kesehatan
§  Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan
§  Pembagian tanah pertanian yang merata


 Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Kelompok 8    :       Fanny Arisda Amaliya. / 22215466                   ...